Tafakur Imam Al Baihaqi: Cahaya Ahli Hadis Dari Bumi Khasrujard

Oleh Dr. Tgk. H. Zulkarnain, MA (Abu Chik Diglee)

  • Bagikan
Tafakur Imam Al Baihaqi: Cahaya Ahli Hadis Dari Bumi Khasrujard

Imam al Baihaqi diumpamakan seperti cahaya ahli hadis yang muncul dan menerangi bumi Khasrujard-Naisabur. Imam al Baihaqi bernama lengkap imam Abu Bakar Ahmad bin Husein bin Ali bin Abdullah al Baihaqi (امام ابو بكر احمد ابن الحسين ابن علي ابن عبد الله البيهقي).

Selain itu, Imam al Baihaqi adalah salah seorang ulama terkemuka dalam madzhab Syafi’i. Beliau bukan hanya ahli dalam bidang hadis tetapi juga masyhur sebagai fuqaha’ dan ahli dalam bidang ushul fiqh serta tarikh. Al Baihaqi artinya harapan Ibu untuk menjadi berilmu dan mulia. Imam al Baihaqi lahir pada tahun 384 H (994 M) di khasrujard-Baihaq di Naisabur tanah bangsa Persia. Namun sekarang wilayah tersebut masuk ke dalam negara Iran. Imam al Baihaqi wafat pada hari Sabtu, tanggal 10 Jumadil Ula tahun 458 H (9 April 1066 M) di Naisabur dan dimakamkan di Desa kelahirannya Khasrujard.

Desa Khasrujard di Naisabur (نيشابور) adalah desa yang terletak di provinsi Razavi Khorasan yang merupakan ibu kota dari Sahrestani Nishapur dan bekas ibu kota dari Khurasan di Timur Laut Iran. Desa Khasrujard Naisabur posisinya terletak di daerah dataran subur di kaki Gunung Binalud. Naisabur bersama dengan Marw, Herat, dan Balkh adalah salah satu dari empat kota besar di wilayah Khurasan Raya dan juga merupakan salah satu kota terbesar pada abad pertengahan.

Naisabur di masa lampau adalah pusat pemerintahan Islam di Timur, tempat bermukim bagi beragam kelompok etnis dan agama serta sekaligus sebagai jalur perdagangan pada rute komersial yang strategis dari Transoxiana, Tiongkok, Iraq, dan Mesir. Kota Naisabur mencapai puncak kegemilangannya pada abad ke-10 Masehi hingga akhirnya dihancurkan oleh invasi pasukan Mongol pada tahun 1221 M, dan akibat gempa dahsyat pada abad ke-13 M. Jumlah penduduk Naisabur 239.185 jiwa (data tahun 2011). Di samping itu, Naisabur merupakan bahagian dari maa wara’a al Nahr (daerah yang terletak di wilayah sungai Jihun).

Pada era dinasti Samanid, Naisabur menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan selama kurang lebih 150 tahun. Naisabur juga sebagai pusat ilmu dan peradaban di kawasan Asia Tengah. Imam al Baihaqi telah hafal banyak hadis sejak ia berumur 15 tahun dan guru pertamanya dalam bidang hadis adalah Abu al Hasan Muhammad bin al Husein al Alawi. Kemudian imam al Baihaqi melanjutkan pengembaraan keilmuannya ke Khurasan, Baghdad, Kufah, Mekkah, dan Hijaz.

Imam al Baihaqi memiliki banyak guru, di antaranya adalah Abu Abdillah al Hakim, Abu Tahir al Ziyadi, Abu Abdirrahman al Sulami, Abu Bakar bin Furik, Abu Ali al Ruthabari, Hilal bin Muhammad al Hafar, Ibnu Busran, dan Ibnu Ya’kob al Ilyadi. Imam al Baihaqi terkenal sangat handal dengan hafalan dan memiliki ketelitian yang luar biasa serta sangat produktif dalam berliterasi.

Adapun murid-muridnya adalah Abu Ismail al Anshari, Ismail bin Ahmad bin al Husein, Abu al Hasan bin Ubaidillah ibn Muhammad bin Ahmad, Abu Zakaria Yahya bin Mandah al Hafidz, Abu Ma’ali Muhammad bin Ismail al Farisi, Abdul Jabbar bin Abdul Wahab al Dahan dan lain lainya. Imam al Baihaqi sangat gemar mengumpulkan literasi madzhab Syafi’i dan membukukannya menjadi satu kitab yang diberi nama dengan kitab al Mabsuth.

Kitab-kitab karya imam al Baihaqi sangat banyak, di antaranya adalah: kitab Sunan al Kubra, Ma’arifa al Sunan Wa al Athar, Bayan Khata Man Akhtha’a ‘Ala al Syafi’i, al Asma’ Wa al Sifat, Dala’il al Nubuwah, Syu’ab al Iman, al Da’wat al Kabir, al Zuhd al Kabir, Fadha’il al Awqat, Manaqib al Syafi’i, Manaqib Imam Ahmad, Tarikh Hukama al Islam, dan lain lainnya. Kitab al Sunan al Kubra Lil Baihaqi (السنن الكبرى للبيهقي), karya imam al Baihaqi adalah kitab sunan terbesar sepanjang sejarah Islam, karena kitab ini memuat sebanyak 21.812 hadis.

Kitab al Sunan al Kubra karya imam al Baihaqi ini, adalah salah satu kompilasi hadis utama yang ditulis oleh ulama penghafal hadis ternama pada periode akhir abad ke-4 Hijriah. Kitab al Sunan al Kubra karya imam al Baihaqi ditulis berdasarkan tema-tema fikih, di setiap Bab diberikan narasi penjelasan hukum sebatas yang diperlukan, kitab ini juga disertai penjelasan terhadap frasa atau terminologi yang mungkin dapat menyebabkan timbulnya salah pemahaman atau salah dalam penafsiran atau dipandang ada yang mengandung hal kontradiktif.

Beberapa ulama yang ahli dalam Ilmu Hadis mengomentari kitab al Sunan al Kubra karya imam al Baihaqi sebagai berikut, imam al Nawawi di dalam kitab al Taqrib mengatakan bahwa seseorang harus mengenang jasa imam al Baihaqi, karena tidak ada penulis kitab sunan sehebat itu. Imam Jalaluddin al Suyuthi di dalam kitab Tadrib al Rawi mengatakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan oleh imam al Nawawi.

Selanjutnya, Imam Ibnu al Shalah di dalam kitab Muqadimahnya dan imam al Sakhawi dalam kitab Fathu al Mughith menyebutkan keunggulan kitab al Sunan al Kubra karya imam al Baihaqi yang pantas diapresiasi. Imam al Dzahabi mengatakan bahwa kitab al Sunan al Kubra karya imam al Baihaqi adalah salah satu dari 4 kitab maha karya pada zamannya, di samping 3 kitab maha karya yang lainnya yaitu, kitab al Muhalla karya imam Ibnu Hazm, al Mughni karya imam Ibnu Qudamah, dan kitab al Tamhid karya imam Ibnu Abdil Barr.

Sedangkan imam Tajudin al Subki mengatakan tidak ada kitab sunan lain yang ditulis dengan klasifikasi, susunan, dan keanggunan seperti kitab al Sunan al Kubra karya imam al Baihaqi tersebut. Dari hasil kajian Najmu Khalaf, di dalam kitab al Sunan al Baihaqi terdapat 7000 hadis yang dinukil dari Shahih al Bukhari dan Muslim, 2000 hadis dari Sunan Abu Daud al Sijistani, 1313 dari Musnad Ibnu Wahab, 785 dari Sunan al Daraquthni, 386 dari Muwatha’ Malik, 642 dari Sunan Ibnu A’rabi, 1407 dari Musnad al Shaffar, 1704 dari Musnad al Syafi’i, dan 348 dari al Kamil Li Ibni ‘Adiy. Dengan demikian, kitab al Sunan al Kubra karya imam al Baihaqi juga berfungsi sebagai penyempurna bagi penghimpunan hadis yang bersumber dari kitab-kitab hadis sebelumnya.

Adapun contoh hadis yang terdapat di dalam kitab al Sunan al Kubra Lil Baihaqi adalah sebagai berikut. Kitab al Sunan al Kubra Lil Baihaqi jilid 5, halaman 101- 103, باب من استحب ان يبتدىء با لتكبير خلف صلاة الصبح من يوم عرفة, Nomor hadis 6368, واما الرواية فيه عن عبد الله ابن عباس فاخبرنا ابو عبد الله الحافظ حدثني ابو بكر محمد ابن احمد بالوية ثنا عبد الله ابن احمد ابن حنبل حدثني ابي ثنا يحي ابن سعيد ثنا الحكم ابن فروخ عن عكرمة عن ابن عباس انه كان يكبر من غداة عرفة الى صلاة العصر من اخر ايام التشريق. Artinya, dan adapun riwayat di dalamnya dari Abdullah bin Abbas maka telah mengabarkan kepada kami Abu Abdillah al Hafidz telah menceritakan kepadaku Abu Bakar Muhammad Ibn Ahmad Balawiyah telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibn Ahmad Ibn Hanbal telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepada kami Yahya Ibn Sa’id telah menceritakan kepada kami al Hakam Ibn Farukh dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, sesungguhnya dia (Ibnu Abbas) adalah bertakbir dari mulai pagi hari Arafah sampai shalat Ashar hari Tasyriq yang terakhir.

Semoga dengan mengenal imam al Baihaqi dan kitab al Sunan al Kubra miliknya, diharapkan agar semangat umat Islam untuk terus berkenalan dan mengkaji hadis serta kitab kitab hadis semakin semarak. Wallahu’alam. WASPADA.id

Penulis adalah Dosen Hadits Ahkam dan Hukum Keluarga Islam di Asia Tenggara Pascasarjana IAIN Langsa.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *