Li Nuriyahu Min Aayaatinaa

Oleh Ali Sakti Rambe

  • Bagikan
<strong><em>Li Nuriyahu Min Aayaatinaa</em></strong>

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat” (QS. Al-Isra’: 1)

Berawal dari wafatnya paman tercinta Abu Thalib, dalam waktu yang tidak terlalu lama, sekitar dua bulan atau tiga bulan berikutnya disusul kembali wafatnya istri tercinta sayyidatina Khadijah binti Khuwailid, ra. Kesedihan belum usai sudah ditambah lagi dengan gangguan, cemoohan, olok-olok, caci-maki serta berbagai perlakuan kasar lainnya yang semakin menjadi-jadi dari kaum kafir Quraisy. Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Abu Thalib wafat, kaum Quraisy menyakiti Rasulullah SAW dengan gangguan yang semasa hidup Abu Thalib tidak berani mereka lakukan.” Dalam Islam, tahun itu dikenang dengan “Amul Huzni – Tahun kesedihan (duka cita).

Dari kecil Rasulullah SAW telah tinggal bersama pamannya. Sepeninggal kakeknya Abdul Muthalib, kemudian pengasuhan nabi dilanjutkan oleh Abu Thalib. Kasih sayang, penjagaan, perlindungan, dan semua yang Abu Thalib bisa berikan ia berikan kepada nabi. Demikianlah betapa sayangnya Abu Thalib terhadap Rasulullah SAW bahkan melebihi sayangnya terhadap anak-anaknya sendiri.

Hal ini berlanjut sampai rasul dewasa. Setelah nabi menikah dan menerima risalah kerasulan lalu kemudian mendakwahkan Islam. Abu Thalib adalah orang pertama yang akan pasang badan kepada siapa pun yang berani mengganggu baginda nabi. Sejarah menjelaskan betapa hebatnya perlindungan serta penjagaan Abu Thalib kepada baginda nabi. Abu Thalib adalah benteng sekaligus perisai dakwah nabi. Pada bulan Rajab tahun ke-10 dari kenabian, Abu Thalib menghembuskan napas terakhirnya. Rasulullah SAW sebagai manusia, merasakan kesedihan yang mendalam atas peninggalan pamannya.

Namun tugas nabi belum selesai. Islam mesti terus di dakwahkan dan disebarkan. Sebab tidak ada satu pun yang berhak disembah kecuali Allah SWT. Lantas, siapa lagi kelak yang akan menjaga serta melindungi nabi dalam dakwahnya? Li Nuriyahu Min Aayaatinaa

Dalam buku Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, sekitar dua atau tiga bulan setelah meninggalnya Abu Thalib kemudian disusul kembali meninggalnya Khadijah, istri tercinta. Sebagai manusia, lagi-lagi rasul mengalami kesedihan yang sangat mendalam.

Sebelum menikah dengan rasul, Khadijah adalah perempuan yang sangat kaya raya di kota Mekkah. Menurut sejarah, dua pertiga wilayah kota Mekkah adalah miliknya. Perempuan mulia, terhormat, lagi bangsawan. Namun setelah menikah dengan rasul SAW, semua kekayaan yang ia punya, ia ikhlaskan untuk kepentingan dakwah Islam. Bahkan menjelang wafatnya, sejarah mengatakan baju yang ia kenakan adalah pakaian yang penuh dengan 83 tambalan. Semua hartanya telah habis untuk kepentingan agama Allah SWT.

Bila istri tercinta Khadijah binti Khuwailid ra telah meninggal dunia dan semua harta kekayaannya telah habis, lantas siapa kelak yang akan menguatkan nabi, mendampingi nabi (dalam situasi apapun), dalam urusan dakwah berikutnya? Li Nuriyahu Min Aayaatinaa

Meski masih dalam suasana kesedihan, setelah ditinggal paman dan istrinya, nabi tetap memilih melanjutkan menyebarkan dakwah Islam. Sebagai amanah dan tanggung jawab atas risalah kerasulan yang diembannya.

Di masyarakat Arab, penduduk Thaif terkenal dengan keramah-tamahannya terhadap para tamu, terkenal dengan perlakuannya memulikan tamu. Dengan berjalan kaki, yang jaraknya sekitar 60 mil dari kota Mekkah, bersama anak angkatnya Zaid bin Haritsah, rasul berangkat menuju Thaif. Rasul hendak mengajak para penduduk Thaif untuk menjadi pengikut agama yang dibawa oleh rasul, yakni menyembah Allah SWT.

Tetapi apa yang terjadi, penduduk Thaif dengan cerita lamanya yang sangat menghormati dan memuliakan para tamu, kini mencemooh, mencaci-maki, serta menyakiti baginda nabi. Sampai-sampai kepala baginda nabi terluka, kakinya (tumitnya) bersimbah darah. Sampai Allah SWT mengutus malaikat Jibril dan malaikat penjaga gunung yang menunggu perintah nabi untuk menimpakan al-Akhsyabain kepada penduduk Thaif. Namun rasul dengan kemuliaan akhlaknya, menolak untuk memerintahkan malaikat penjaga gunung tersebut. Justru sebaliknya, rasul mendo’akan semoga kelak Allah SWT memunculkan dari tulang punggung mereka suatu kaum yang menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.

Tiga peristiwa besar yang telah dipaparkan di atas adalah rangkaian peristiwa yang mendahului sebelum diberangkatkannya baginda nabi dalam perjalanan isra’ wal mi’raj. Perjalanan yang penuh dengan hikmah dan keaguangan. Yang oleh Allah SWT tujuannya adalah Li Nuriyahu Min Aayaatinaa – agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam QS. Al-Isra ayat 1 di atas.

Maka beberapa pelajaran berharga di antara sekian banyaknya pelajaran agung dari kisah perjalanan isra’ mi’rajnya baginda nabi adalah: Pertamaada Allah yang Mahamelindungi. Meski Abu Thalib telah tiada bersama dengan penjagaan serta perlindungannya terhadap nabi. Tetapi ada Allah SWT yang Maha Melindungi, yang perlindunganNya tiada tara dan tiada batas. Melalui peristiwa isra’ mi’raj Li Nuriyahu Min Aayaatinaa – agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.

Dengan perlindungan Allah SWT tersebut, rasul selamat dengan misinya hingga akhir hayatnya. Artinya, bagi kita umat baginda nabi, kerjakan dan laksanakanlah sedaya mampu kita perintah Allah Swt tersebut, bagaimana pun situasi dan kondisinya, percayalah ada Allah SWT yang Maha Melindungi. Sebaliknya jangan terlalu anggar dan merasa hebat dengan perlindungan dari makhluk, sebab semuanya pasti akan berakhir hanya Allah SWT yang kekal dan abadi selama-lamanya.

Keduaada Allah yang Mahakaya dan Mahamencukupi. Meski Khadijah telah tiada bersama dengan seluruh hartanya, tetapi ada Allah SWT yang Maha Kaya dan Maha Mencukupi. Melalui peristiwa isra’ mi’raj Li Nuriyahu Min Aayaatinaa – agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Dengan dua sifat Allah SWT tersebut, rasul dengan segala keperluan dakwahnya Allah cukupi.

Artinya, bagi kita umat baginda nabi, kerjakan dan laksanakanlah sedaya mampu kita perintah Allah SWT tersebut, bagaimana pun situasi dan kondisinya, percayalah ada Allah SWT yang Mahakaya dan Mahamelindungi. Sebaliknya, jangan terlalu anggar dan merasa hebat dengan semua yang kita miliki, sebab dalam waktu sekejap mata dengan mudah Allah SWT lenyapkan. Hanya Allah SWT yang Maha Kaya dan Maha Mencukupi.

Semoga segudang hikmah yang terkandung dalam kisah perjalanan Isra’ Mi’raj baginda nabi bisa kita ambil dan kita tauladani dalam kehidupan kita sehari-hari.

(Guru Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid Kab. Tapanuli Selatan)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *